MAKASSAR, KOMPAS.com - Sekitar 30 persen anak-anak di Indonesia memiliki tinggi badan yang rendah dibandingkan usianya, kata Ketua Pusat Kajian Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), DR Ahmad Syafiq.
"Rendahnya tinggi badan anak ini dibanding umurnya, karena kekurangan gizi di masa lalu," kata Syafiq di Makassar, Kamis.
Menurut dia, kondisi ini sangat memprihatinkan karena persentasenya sudah cukup besar. Karena itu, tidak heran jika banyak anak yang dijumpai di lapangan pertumbuhan tinggi badannya minim, sehingga cenderung pendek.
Kondisi yang memprihatinkan itu juga diikuti dengan kasus "under weight" (berat badan rendah) yang masih tercatat antara 6 -7 persen di kalangan anak-anak Indonesia.
"Baik rendahnya tinggi badan anak, maupun rendahnya berat badan anak dibanding usianya, semua itu penyebabnya karena kekurangan gizi, jadi bukan faktor gen orang tuanya semata," katanya.
Menyikapi fenomena tersebut, lanjutnya, pemerintah dalam menangani persoalan gizi harus serius dan menggunakan dana hibah dengan mengalokasikan anggaran dengan benar dan tepat sasaran. Lebih jauh dia mengatakan, untuk perbaikan gizi anak tidak terlepas dari pentingnya perbaikan gizi perempuan atau kaum ibu, sebab dari hasil penelitian UI diketahui, sekitar 50 persen perempuan di Indonesia mengalami anemia (kekurangan zat besi).
Menurut dia, apabila ibu hamil menderita anemia, otomatis akan berpengaruh pada gizi janinnya dan pada akhirnya turut mempengaruhi proses pertumbuhannya ketika lahir. "Di sisi lain, perempuan anemia pada saat melahirkan beresiko tinggi mengalami pendarahan dan kemudian tidak menutup kemungkinan mengalami kematian," ujarnya.